pendidikan

Artikel Cendekiawan

Dalam berbagai kesempatan kerap kali kita mendengar istilah cendekiawan. Jika kita browsing dengan menggunakan mesin pencarian di internet, kita juga kerap mendapati beberapa artikel cendekiawan yang membahas tentang politik, agama, dan sebagainya dari berbagai macam bidang. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan cendekiawan, sehingga istilah ini banyak sekali digunakan?

Berdasarkan beberapa referensi, istilah cedekiawan sama halnya dengan intelektual, yaitu orang-orang yang selalu menggunakan dan mengandalkan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, hingga menggagas dengan kaitannya pada segala macam persoalan. Jadi, bisa juga ditarik benang merahnya, bahwa cendekiawan ini adalah mereka yang gemar memproduksi atau mengolah ilmu pengetahuan.

Kata cendekiawan sendiri berasal dari Chanakya yang pada masa lalu dianggap sebagai pelopor ilmu politik dan ekonomi dari India. Ia juga merupakan seorang politikus dalam pemerintahan Chandragupta yang berasal dari Kerjaan Maurya. Bahkan, lebih dekat lagi, ia juga dikenal sebagai penasihat Raja Maurya pertama tersebut.

pixabay.com

Pada masa modern, terdapat tiga pengertian terkait dengan istilah cendekiawan ini, yaitu sebagai berikut:

  1. Orang-orang yang terlibat gemar memproduksi dan terlibat dalam berbagai ide dan buku
  2. Orang-orang yang memiliki ahli dalam hal budaya dan seni. Mereka inilah yang memperkenalkan kewibawaan kebudayaan dan kemudian mempergunakan kewibaannya untuk mendiskusikan perkara budaya di khalayak ramai. Golongan yang disebutkan ini kerap dipanggil sebagai “intelektual budaya” atau “cendekiawan budaya”
  3. Jika dilihat dengan pandangan Marxisme, cendekiawan adalah mereka yang tergolong dalam kelas guru, dosen, pengacara, jurnalis, dan sebagainya.

Dari semua pengertian ini, maka tak heran jika banyak cendekiawan yang selalu dikaitkan dengan lulusan suatu universitas. Namun demikian, menurut Sharif Shaary (seorang dramawan Malaysia), bahwa belajar atau pernah menduduki bangku universitas belum menjamin seseorang dapat dilabeli menjadi seorang cendekiawan.

Sebab, tidak semua mereka yang belajar di universitas memiliki ketajaman berpikir dan menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat.Sementara itu, mereka yang dianggap sebagai seorang cendekiawan adalah seorang pemikir yang senantiasa memiliki cara berpikir kuat dan otentik, serta senantiasa menyumbangkan dan mengembangkan ide atau gagasan untuk banyak orang.

Jika kita mundur sejenak pada bebapa puluh tahun ke belakang dan melihat pemikiran Bapak Sosiologi, August Comte. Menurut pemikirannya, ada tiga tahap perkembangan intelektual yang juga berkaitan dengan istilah cendekiawan. Ketiga tahap ini juga masing-masing merupakan hasil dari perkembangan dari tahap-tahap sebelumnya. Apa saja? Simak yang berikut ini.

  1. Tahap Teologis atau fiktif

Tahap ini merupakan tahapan di mana seseorang masih meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini dikendalikan oleh kekuatan supranatural. Kekuatan ini berasal dari para dewa, ruh, atau yang dipercayai sebagai Tuhan. Pemikiran ini lantas menjadi dasar mutlak untuk menejelaskan berbagai fenomena di dunia. Sehingga, tak sedikit yang menilai dan memberi kesan irrasional.

  1. Tahap Metafisis

Pada tahapan ini manusia sudha sedikit mengalami pergerasan cara berpikir. Artinya, pada tahap ini mulai muncul konsep-konsep kekuatan abstrak yang diyakini sebagai kekuatan Tuhan, dewa atau ruh tadi, yaitu kekuatan alam. Di mana, pemikiran ini menjelaskan, bahwa segala kejadian yang terjadi di muka bumi sudah merupakan hukum alam yang tidak akan bisa diubah.

  1. Tahap Positivisme

pixabay.com

Nah, pada tahapan ini, pergeran cara berpikir sudah cukup jauh, yaitu cara berpikir secara ilmiah. Pada tahap ini, segala gejala alam atau fenomena yang terjadi selalu dapat dijelaskan secara ilmiah berdasarkan pemantauan, peninjauan, hingga penelitian yang ddapat dibuktikan secara empiris. Tahap ini menjadikan ilmu pengetahuan mulai berkembang dan segalanya menjadi lebih rasional.

Dengan adanya tahapan ini, orang cenderung berhenti melakukan pencarian sebab mutlak dan lebih berfokus pada penelitian dalam upaya menemukan akar permasalahannya. Misalnya, turunnya hujan bukanlah kehendak dari dewa hujan, melainkan akibat adanya proses kondensasi, kemudian uap air berubah menjadi embun. Titik embun yang semakin banyak, memadat, lalu membentuk awan hujan.

Demikianlah yang disebut dengan tahap perkembangan intelektual yang berkaitan dengan kehadiran para cendekiawan. Lebih lanjut lagi, seorang Sharif Shaary menegaskan, bahwa orang yang dianggap sebagai cendekiawan juga bukan hanya sekadar berpikir tentang sebuah kebenaran yang bisa dibuktikan, melainkan juga harus menyuarakannya, meskipun ada banyak rintangan.

Sejatinya, seorang cendekiawan harus memiliki sikap yang jelas dan tidak boleh bersikap netral. Sikap yang jelas tersebut haruslah mengacu dan berpegang teguh pada kebenaran dan keadilan yang seadilnya. Jika hal ini tidak dilakukan, ia akan dianggap sebagai cendekiawan bisu. Kecuali, seorang cendekiawan benar-benar bisu atau telah dibisukan.

Untuk mendapatkan konten-konten dengan topik artikel cedekiawan, silahkan cek website Kontenesia yang merupakan tempat paling terpercaya untuk membuat konten berkualitas pada website Anda. Dongkrak traffic, hanya di Kontenesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *